Sore itu, hampir pukul 15.00 WIB ketika aku berpapasan dengan teman kuliahku dulu. Sewaktu masih kuliah, dia termasuk jajaran teman-temanku yang suka berdandan. Intinya, cerah berseri setiap hari. Lama tidak bersua, kini kujumpai dia dengan kondisi yang sangat berbeda. Wajahnya kusam dan nampak kelelahan. Tak ada lagi sisa bedak pagi hari. Kudengar kabar, dia bekerja sebagai guru honor di salah satu SMA Negeri di Bandar Lampung.
"Yik, baru pulang?" tanyaku seraya menyalami tangannya plus cipiki cipika (cium pipi kiri cium pipi kanan :D)
"Iya, Ukhti*, capek banget..." jawabnya sedikit bernada curhat.
"Yach wajar namanya orang kerja.. Btw udah jadi PNS ya, sekarang?!"
"PNS apaan ukhti, baru honor.." ujarnya lesu
"Emang gaji honor berapa sich, kok perasaan honorer bawaannya pasti lesu melulu?" tanyaku prihatin sekaligus penasaran. Hehe, sapa tau aja sekarang gaji honorer gede, mau juga tuh nyobain.. :p
"Aduh, Ukhti, ongkos aja tekor..." sudah kuduga.
"Sabar ya, Yik, mudah-mudahan cepat diangkat.."
"Aamiin, doain ya Ukhti.."
Sedih rasanya, tiap kali aku mendengar keluhan teman-temanku yang bekerja sebagai guru honorer. Tidak jarang kubaca status mereka di pesbuk yang isinya keluh kesah mereka sehari-hari sebagai guru honor.
"Yang laen dah pada pulang, lah gue masih disini dengan setumpuk kerjaan yang dilimpahkan"
"Keringat sudah kering, gaji belum di tangan" atau..
"Lagi-lagi kerja rodi, nasib...nasib..."
Guru honor, itulah potret Oemar Bakrie hari ini. Kerjanya rodi, tapi gajinya dikebiri. Tak usahlah berharap bisa membeli ini dan itu dari gaji yang mereka terima, cukup ongkos saja bagi mereka sudah syukur luar biasa. Kasihan... Tapi aku heran, mengapa dengan kondisi demikian mereka masih sanggup bertahan. Sebab menurutku kerja yang seperti itu hanya akan mendzolimi diri saja dan membuat waktu terbuang percuma. Lagi pula, untuk apa negara mengangkat PNS kalau toh yang jumpalitan adalah tenaga honorer?
"Gak ada pilihan, ukhti... Ya udahlah sabar aja, mudah-mudahan suatu hari diangkat."
"Diangkat", hanya itu saja kata yang bisa menjadi oase harapan dalam gersangnya perjuangan mereka sebagai guru honor. Tentu saja yang dimaksud diangkat adalah menjadi Pegawai Negeri Sipil atau PNS. Yang konon adalah posisi super nyaman dengan adanya tunjangan dan gaji pensiunan. Yach, pola pikir setiap orang tidak sama, kebetulan aku sedikit berbeda. Dan aku hanya bisa berdoa, semoga suatu hari mereka mendapatkan apa yang mereka harapkan. Diangkat dari guru honor menjadi PNS. Meski harus menunggu selama 5 tahun...10 tahun...15 tahun...atau entah kapan...
.....
Oemar Bakri... Oemar Bakri... pegawai negeri
Oemar Bakri... Oemar Bakri... 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri... Oemar Bakri... banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri... profesor dokter insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri
(By. Iwan Fals)
Ket: *ukhti: panggilan dalam bahasa Arab yang artinya saudara perempuanku.


19 Mei 2011 20:35
Ada satu yang membuatku bingung. Seorang guru honor digaji hanya selama satu minggu. Misalnya, dia mengajar selama 22 jam/minggu. Satu jam pelajaran 20.000. Gajinya adalah 22 x 20.000 saja selama satu bulan. Trus gaji minggu ke dua, ke tiga, dan ke empat ke mana?
21 Mei 2011 11:31
Ke bulan barangkali, hehe... Begitulah, nasib guru honor. Sudahlah gaji kecil, kadang malah dirapel. Nasib.