"Hanya di saat langit gelap kita dapat melihat indahnya bintang bersinar."
Pekerja lalu melemparkan batu berukuran kecil. Tak ! Batu itu tepat mengenai kepala temannya. Temannya lalu dengan refleks mengelus-ngelus kepalanya yang sakit, dan memandang ke atas. Melihat temannya yang terlihat hendak marah begitu menyadari bahwa dialah si pelempar batu tersebut, pekerja itu lantas melemparkan sebuah batu kecil yang dibungkus oleh kertas ke hadapan temannya. Temannya memungut batu itu, kemudian membuka kertas yang membungkusnya, "Terkadang manusia perlu sedikit teguran agar tidak lupa untuk mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan"
Ya. Suka tidak suka, di akui atau tidak, kerapkali begitulah diri kita. Ketika Tuhan memberi kita begitu banyak kesenangan, limpahan kenikmatan, kita justru lupa untuk bersyukur. Kita terlalu angkuh menyadari bahwa semua yang kita peroleh semata-mata adalah pemberian Tuhan. Kita pun lalai dari megingat Tuhan, dan tenggelam dalam kekufuran. Tapi ketika gelap menjadi satu-satunya warna kehidupan, kesusahan mengintai, kita merasa kekurangan, kesempitan, kecewa dan putus asa, barulah kita sadar bahwa sesungguhnya kita masih membutuhkan Tuhan. Kita lalu menghiba-hiba menadahkan tangan memohon pertolongan. Kita pun bertanya-tanya, dimanakah gerangan Tuhan bisa di temukan ? Alangkah tidak adil dan tidak tahu malunya kita.
*Cerita inspirasi, pernah kubaca entah di mana.


28 April 2011 19:07
sangat inspiratif, mohon ijin mengutip ntar ya..sharing ama yang laen..makasih...salam